- PERISAI PUTIH melambangkan KEMURNIAN, pembelajaran menjalani Mitzvoth Alaha;
- SALIB MERAH melambangkan sistem korban sejak zaman pra-Nuh, Sinai, zaman Yeshua, dan masa kini. dan Ibadat yang benar selalu berlandaskan “korban” baik dalam Perjanjian Lama dan Baru. Korban ini terkait erat dengan keimamatan yang senantiasa memiliki suksesi mata rantai tak putus. Pada Dispensasi Perjanjian Baru sistem korban ini dilandaskan pada Korban Yeshua di Salib – Golgota dengan keimamatan Melkisedek dan selanjutnya diteruskan dalam sistem Korban Perjanjian Baru dalam wujud Persembahan Roti dan Anggur sebagai “Korban Perjanjian Baru” (Lukas 22:19-20; 1 Korintus 11: 23 – 32) yang terus menerus dilakukan oleh Imam – imam Melkisedek tertahbis suksesi rasuli sampai Maran Datang Kembali ke Bumi (1 Yokhanan 2: 1-2).
- MAHKOTA EMAS, melambangkan mahkota emas dari Maran kita, Meshikha Sang Raja dan mahkota kemenangan yang semua hamba setia bisa berharap untuk menerima dari tangan-Nya. Mereka berharap menerimanya ketika menyambut Dia pada jagad fisik ini, atau jika mereka wafat sebelum Dia datang, saat mereka bertemu Maran setelah mati. Untuk jelasnya, sebagaimana Mar Shaul (Paulus) jelaskan kepada kita (1Tesalonika 4:16; 1 Korintus 9:25), mereka yang melewati dari hidup bumi sebelum Dia datang, akan menerima upah mereka bahkan sebelum kita menyambut-Nya saat Dia mencapai Bumi. Mahkota Emas juga dimaknai sebagai suatu “Usaha Terus Menerus” untuk mencapai target dalam menjalani Jalan Sempit bagi Kesempurnaan Jiwa. Dengan demikian kami menolak ajaran teologi Predestinasi (Takdir) bahwa kita sudah menjadi “orang kudus” seperti ada segelintir orang Kristen yakini. Keselamatan kita dalam Yeshua masih dalam pemahaman potensi dan progresif, dan tidak stagnan sejak kita menjadi orang percaya (1 Korintus 9:24-27; 2 Keipha 1:4; Yakobus 2:23); dalam kehidupan di bumi kita masih jatuh – bangun tetapi kita bersyukur ada solusi untuk itu bahwa Yeshua itu kasih dan adil akan mengampuni kita saat kita jatuh dalam dosa dengan menyediakan Sakramen Pengakuan Dosa melalui keimamatan Melkisedek (1 Yokhanan 2:1-2). Suatu pengakuan membutuhkan saksi-saksi sehingga suatu kesaksian itu sah adanya (2 Korintus 13:1) dan pengakuan itu bersyarat seperti Doa Bapa Kami: “… ampunilah pelanggaran-pelanggaran kami seperti kami mengampuni orang lain yang bersalah pada kami…” (Mattai 6:12) seperti yang diumpamakan oleh Maran Yeshua tentang pengampunan (Mattai 18:21-35 dan Lukas 17:3-4).
- TOPI MITHRA, artinya Tahta Uskup, dirancang untuk langsung pikirannya selalu terarah kepada sang Maha Tinggi sehingga bentuknya kerucut. Roma 11:36 “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia,dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.”
- TONGKAT GEMBALA, artinya OTORITAS DAN TUGAS yang diberikan Maran kepada Uskup untuk mengembalakan umat-Nya. Hanya Para Rasul yang diberi mandat menggembalakan kawanan domba-domba-Nya (Yokhanan 21:15-17). Amanah Yeshua hanya diberikan kepada Para Rasul yang diwakili oleh Shimon Keipha pada saat berbicara dengan Yeshua, sebab menurut tradisi Yahudi hanya Shimon Keipha yang paling tua usianya dari semua Para Rasul pada waktu itu sehingga ia dituakan diantara mereka. Secara tradisi dia yang pantas mewakili semua Para Rasul. Kemudian Para Rasul meneruskan otoritas dan mandat ini kepada Para Pengganti mereka. Di sini tidak ada berbicara supremasi rasul Shimon Keipha seperti yang dikembangkan oleh Gereja Roma Katolik bahwa Gereja Roma menjadi Kepala semua Gereja-gereja Kristen. Fakta sebenarnya dalam sejarah kedudukan Gereja Roma menjadi bergengsi karena kedudukannya berada di ibu kota Kekaisaran Romawi kuno. Ini hanya pemaksaan politis gerejawi yang dikembangkan selama berabad-abad oleh Gereja Rasuliah Barat. Tidak ada dukungan Kitab Suci maupun Tradisi Rasuli berbicara mengenai Supremasi Gereja Roma Katolik. Perihal lainnya, di sini juga menjelaskan bahwa tidak ada dukungan Alkitab dan Tradisi Rasuli di mana ada sekelompok denominasi Gereja – gereja Kristen menyebut pemimpin mereka sebagai “Gembala Sidang”, sesungguhnya Gembala itu mutlak memiliki tahbisan suksesi rasuliah yang sah bisa ditelusuri mundur ke belakang sampai kepada salah satu rasul Mshikha. Hak dan Otoritas “Gembala Sidang” ini dilambangkan dengan adanya “Tongkat Uskup.”
- SALIB PADA TALLIT/STOLA, Salib terdiri dari dua garis lurus: Garis Vertikal, artinya kasih kepada Alaha (Keluaran 20:1-11) dan Garis Horizontal, artinya kasih kepada sesama manusia (Keluaran 20:12-17). Sehingga Vertikal dan Horizontal disatukan bermakna “SALIB” yang bersifat korban yang dipersembahkan Yeshua Mshikha di Salib Golgota dan keimamatan tertahbis; kasih pengorbanan ini ditegaskan ulang Yeshua dengan melakukan perbuatan mitzvoth Torah:
- Kasih Vertikal: Kasihilah Tuhan, Alahamu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. – (Markus 12:30)
- Kasih Horizontal: Dan perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama dari pada kedua perintah ini.”—(Markus 12:31).
*Kesimpulan SALIB: Kasih kepada Alaha (Vertikal) dan Manusia.
- TALLIT/ STOLA (Selendang Doa), artinya kesediaan menjadi Hamba Pelayan Alaha.
- TUJUH GARIS WARNA BIRU PADA TALLIT, garis ini terbagi dua; EMPAT adalah simbol “Bumi” (ha’Aretz) artinya “empat penjuru bumi yang merupakan mandat pelayanan yang diterima dari Maran Yeshua Mshikha bar Alaha melalui Para Rasul dan Pengganti mereka (Uskup – uskup) untuk “melaksanakan Amanah Agung” menjadikan semua bangsa talmidim-Nya (Mattai 28:20; Kisah 1:8), dan TIGA bermakna “Langit” (Shamayim) atau “Keilahian” (Alahotha), yakni memikveh para Talmidim dalam sang NAMA dari Bapa, Anak dan Roh Kudus, Alaha Ehad Sejati. Tallit juga lambang “kerendahan hati” yang menggantungkan di leher atau diikatkan dipinggang para hamba sebagai kuk yang ringan dari Yeshua (Mattai 11:28-30). Sehingga para hamba Yeshua tidak lagi mengajarkan Torah Rabbinik yang memberatkan, tetapi Torah Mshikha yang ringat (Galatia 6:2). Tallit atau Stola ini disebut juga “sapu tangan lebar” untuk menyeka keringat yang biasa digantungkan pada leher maupun diikatkan di pinggang pada zaman dahulu. Kain yang sama inilah dipakai mengeringkan kaki Para Rasul saat dibasuh oleh Maran Yeshua (Yokhanan 13:4-5). Ini mengingatkan Pesan Yeshua seorang hamba harus “rendah hati” di mana Yeshua rela menjadi hamba dengan membasuh kaki para murid-Nya dan mengeringkannya dengan Tallit.
- TZIT-TZIT 12 PINTAL BIRU, artinya mematuhi mitzvoth Mar-YAH Alaha (10 Perintah Musa dan 2 Perintah Yeshua tentang Kasih, baca Markus 12:30-31). Dan juga Pengakuan Iman 12 frasa kata yang disusun tahun 70 Masehi.
- HURUF IBRANI: “Yod He Waw He” (יהוה) adalah Sang Nama Kudus dari Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Alaha Ehad selama-lamanya. AMIN. Tetragramaton ini berada pada tiap sisi salib empat penjuru yang memiliki arti, YHWH telah menjelma menjadi Anak Manusia, yaitu Yeshua Ha-Mashiakh sehingga kesaksian Alkitab menyebutkan Imanu-El (Alaha tinggal dalam Manusia). Manusia menjadi “Maqom” Ilahi (Yokhanan 1:14; Mattai 1:23). Anak Manusia ini menjadi perantara pendamaian antara manusia dan Alaha sehingga Ia menjadi Anak Domba Alaha untuk menghapus dosa-dosa manusia (Yokhanan 1:29). Keilahian Yeshua tidaklah bisa mati, tetapi Kemanusiaan-Nya yang bisa mati. Kematian Manusia Yeshua adalah sesuai dengan Kehendak Maran sendiri bukan karena terpaksa mati oleh akibat dosa, jika Ia berkehendak untuk tidak mati, maka Ia tidak mati. Namun, untuk menjalankan misi Keselamatan Ia taat sampai mati (Yokhanan 10:17-18). Di sini sekaligus menegaskan bahwa Yeshua itu sendiri adalah YHWH dalam Kesatuan-Nya dengan Sang Bapa dan Roh Kudus, Alaha Ehad selama-lamanya. Ini ditegaskan dengan kata “Aku adalah…” (Ibrani, “Ehyeh Asher Ehyeh” dan dalam bahasa Yunani disebut “Ego Eimi”) dalam Kitab Injil Yokhanan.
- DUA KUNCI, artinya kuasa MELEPAS dan MENGIKAT (Mattai 16: 18-19) yang merupakan otoritas keimamatan dari sang Anak Manusia yang didelegasikan kepada Para Rasul dan Para Pengganti mereka. (Mattai 9:3)
- CAWAN YANG BERISI ANGGUR DAN ROTI ADALAH Tubuh dan Darah Maran sebagai kurban pendamaian dan kehidupan (Yokhanan 6: 48-59, Lukas 22:19-20). Ini merupakan dispensasi pengganti sistem Korban keimamatan Harun menjadi sistem keimamatan Melkisedek yang mempersembahkan Roti dan Anggur (Kejadian 14:18), di mana Yeshua adalah sang Melkisedek itu sendiri yang bertemu dengan Abraham dalam wujud Kemanusiaan (Yokhanan 8:58; Ibrani 7-8). Pada saat itu Torah yang berlaku adalah Torah Nuh dan keimamatan Melkisedek yang berlaku universal. Kedatangan Yeshua sebagai Imam Melkisedek kedua kalinya sebagaimana ditunggu kaum Esseni Qumran pada abad ke-2 SM., telah memprabayangkan persembahan Roti dan Anggur sebagaimana dicatat:
“Dan di setiap tempat di mana ada sepuluh orang dari majelis komunitas, haruslah ada satu imam (Kahein) yang memimpin. Biarlah mereka meminta nasihat dalam segala sesuatu. Kemudian saat mereka menyiapkan meja perjamuan untuk makan, atau mempersiapkan anggur untuk minum, imam itu akan pertama kali merentangkan tangan mendaraskan doa berakha atas persembahan pertama roti dan anggur.” (Manual Discipline 6:3-5).
Catatan: Marn Yeshua bukan pengikut kaum Esseni, dan bukan juga seorang Farisi sebagaimana banyak orang menafsirkannya. Tidak ada bukti apapun, kecuali hanya tafsir dari sekelompok orang saja yang mencoba berspekulasi.
- TIGA PILAR, terdiri dari Kitab Suci Tertulis (Kadisha d’Ketava), Tradisi Suci Lisan (Kadisha Masorah), dan Wahyu Suci atau Mistikisme (Kadisha d’Gilyana). Ketiganya saling menjelaskan dan melengkapi. Pada umumnya, Kekristenan hanya berdasarkan dua pilar Iman: Kitab Suci dan Tradisi dalam Gereja – gereja Ortodoks Timur dan Katolik Barat, tetapi pada prakteknya mereka juga meyakini Mistikisme terutama dalam kehidupan Biara. Contoh seorang Hesikastis (mistikus) dari Gereja ortodoks Timur adalah Gregory Palamas (1296–1359) seorang rahib dari Gunung Athos di Yunani dan kemudian menjadi Uskup Agung Thessaloniki, dan Serafim dari Sarov (Russian: 1833), dia dikenal luas sebagai rahib Russia dan mistikus dalam Gereja Ortodoks Russia. Begitu juga dari Gereja Roma Katolik dikenal beberapa mistikus, Francis dari Assisi (1181-1226), Thomas Aquinas (1225 –1274), seorang rahib Dominican dan imam Katolik, dan banyak lagi lainnya. Hanya Gereja-gereja ini tidak menjadikan “Mistikisme” sebagai Pilar Iman, sementara Gereja Nasrani Katolik Ortodoks berkeyakinan Mistikisme adalah Pilar Iman Ketiga. Dua orang mistikus terkenalnya adalah Archbishop John Sebastian Marlow Ward (1885 – 1949) dan St. Serapha (1890-1965). Pada hakikatnya Agama itu seharusnya mengandung dua unsur, yakni Eksoterisme (Bentuk Luar) dan Isoterisme (Mistik). Agama yang hanya mengandalkan Eksoterisme (Bentuk Luar) menjadikan agama itu berkarakter “Legalistis” saja yang terdiri dari berbagai ritus, seremonial, perayaan, tulisan-tulisan dan berbagai aneka tafsir, fatwa, dan rumusan rasional keagamaan sehingga keagamaan itu sangat menitik beratkan pada “Theologumenon” (pendapat-pendapat hasil tafsir) seperti halnya Keagamaan Yudaisme Rabbinik yang menghasilkan Talmud, dan begitu juga Gereja-gereja Ortodoks Timur dan Katolik Barat yang banyak hanya menghasilkan Legalitas dari Konsili-konsili Rasional saja. Agama itu harus mengandung sisi Isoterisme untuk keseimbangan sehingga tidak mengharapkan tafsir rasional manusia saja, melainkan menunggu Wahyu-wahyu Ilahi yang disampaikan Alaha, melalui Para Malaikat atau berbagai nubuatan kenabian, sebagaimana Alkitab katakan: “Bila tidak ada Wahyu kenabian, umat menjadi liar; sebaliknya ia yang menjalankan Torah berbahagia.” Sefer Mislei 29:18.
- MENORAH, BINTANG DAUD, DAN IKAN, merupakan lambang cabang Yudaism sang Tunas yang tumbuh dari tunggul pohon Isai setelah cabang-cabang pohon Yudaisme dipotong (Roma 11:21) oleh Mar-YAH Alaha oleh karena pelanggaran mereka terhadap Perjanjian Sinai – Dispensasi Israel berakhir (Lukas 16:16), sang Tunas atau “Nasrani” itu menjadi dasar Umat Perjanjian Baru Israel (Yesaya:11:1), dimana Yahudi dan Goyim menjadi satu umat pilihan Alaha secara individu (Roma 10:12) dan sekaligus menegaskan bahwa tidak ada lagi manusia di bumi ini yang melakukan Torah Musa sebab melanggar satu perintah saja melanggar keseluruhannya (Yakobus 2:10) dan menurut Torah Musa harus ada keimamatan Harun-Lewi dan dilaksanakannya pengorbanan menurut tata cara keimamatan Harun-Lewi yang harus memiliki Bait Suci dan semua itu sudah tidak bisa dilaksanakan lagi sebab SALIB (korban menurut keimamatan) telah meniadakan sistem korban persembahan keimamatan Lewi-Harun (Efesus 2:15-16) digantikan dengan sistem keimamatan menurut Peraturan Imam Melkisedek. Sejak itu kita mengikuti Torah Mshikha (Galatia 6:2) dengan sistem korban Perjanjian Baru dalam wujud Roti dan Anggur yang dilaksanakan oleh para imam tertahbis suksesi rasuli dan Torah Moral Musa tetap berlaku abadi dan tak terhapuskan. Sang TUNAS adalah Yeshua sendiri (Kisah 22:8) yang memberikan dispensasi Perjanjian Baru bagi orang Israel dan Bangsa-bangsa, sehinga dispensasi ini disebut sebagai pengikut Orang Nasrani.
- Tulisan: “KEUSKUPAN AGUNG”, (The Holy See) berarti wilayah yurisdiksi kerasuliahan dimana seorang uskup melakukan pewartaan injil dan menggembalakan umat-Nya.
- Tulisan: “GEREJA” berasal dari bahasa Portugis: igreja, yang berasal dari bahasa Yunani: εκκλησία (ekklêsia) yang berarti dipanggil keluar (ek= keluar; klesia dari kata kaleo= memanggil); kumpulan orang yang dipanggil ke luar dari dunia memiliki beberapa arti:
- Arti pertama ialah ‘umat’, atau lebih tepat, ‘persekutuan’ orang percaya Mshikha.
- Arti kedua adalah sebuah perhimpunan atau tempat pertemuan ibadah umat percaya Mshikha yang diselenggarakan pada “tempat tertentu” baik di dalam ruangan dan di luar.
Jika kita kembali kepada kitab Peshitta kata Gereja (Ekklesia) berasal dari terjemahan bahasa Aramaik yang juga sejajar dengan bahasa Ibrani sebagai berikut: ܐܦ ܐܢܐ ܐܡܪ ܐܢܐ ܠܟ ܕܐܢܬ ܗܘ ܟܐܦܐ ܘܥܠ ܗܕܐ ܟܐܦܐ ܐܒܢܝܗ ܠܥܕܬܝ ܘܬܪܥܐ ܕܫܝܘܠ ܠܐ ܢܚܤܢܘܢܗ (hnwnshn al lwyšd aertw ytdel hynba apak adh lew apak wh tnad kl ana rma ana pa). “Dari sekarang Aku berkata kepadamu, bahwa engkau adalah Kephas: dan di atas batu karang ini, Aku akan membangun “adah-Ku”: dan pintu-pintu gerbang maut tidak akan menguasainya.” (Peshitta)
Peristilahan Ibrani-Aramaik:
- עדתאgereja ‘adta’ –digunakan dalam Mattai 18:17, Peshitta.
- עדה komunitas, ‘adah’ atau ‘edah’ – digunakan dalam kitab Tanakh
כנסיה gereja ‘kenesiya’ (kenisah)– istilah modern diterapkan kepada bangunan gereja atau kumpulan orang yang ada didalam gedung. - קהל jemaat ‘qahal’ — jemaat, digunakan dalam kitab Tanakh.
Apa arti kata Gereja? Aslinya εκκλησία (ekklêsia); ek= keluar; klesia dari kata kaleo= memanggil. Jadi sekumpulan orang yang dipanggil keluar. Dalam pemahaman teologisnya kita lihat pada:
Surat Kiriman 1 Keipha 2:9-10:
Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Alaha sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Alaha, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan. (Lihat, Keluaran 19:5-6; Hosea 2:22).
Pemahaman ayat 9 dan 10 di sini ditujukan kepada kaum Bangsa-bangsa yang percaya di wilayah Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia dan Bitinia dengan menggunakan kiasan Umat Israel sebagai Umat Imamat Rajani yang diperluas kepada Bangsa-bangsa, tidak lagi berkarakter Tribalisme Israel tetapi seluruh etnis, bangsa dan bahasa setelah turun-Nya Ruakh ha-Kodesh mereka segala bangsa menjadi satu umat Mshikha sebagai Bangsa Pilihan, yakni Bangsa imamat rajani yang kudus dalam Yeshua. Ini menjadi satu umat yang disebut Umat Katolik, yaitu Umat Universal. Mereka yang terpanggil jiwanya dari tempat gelap menuju terang-Nya dalam Yeshua Mshikha.
Ucapan Shliakh Mar Shimon Keipha sesuai misi Maran Yeshua setelah Ia dimikveh dan berpuasa dan Dia pergi ke Galilea daerah Zebulon tempat di mana banyak Bangsa-bangsa (Goyim) tinggal disebutkan dalam Injil Mar Mattai 4:15-17:
… supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, — bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Sejak waktu itulah Yeshua memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”
Dari konteks ayat di atas tepat jika menggunakan kata εκκλησία (ekklêsia) dari bahasa Yunani dan diadopsi kedalam bahasa Indonesia sebagai kata “Gereja” dari kata Portugis Igreja; bahwa kumpulan orang-orang yang dipanggil dari antara Bangsa-bangsa ini disebut Gereja.
Kata Gereja ini juga sepadan dengan kata Adah atau Edah dalam bahasa Aramaik Peshitta yang asal etimologi katanya berasal dari kata “lehaid, artinya bersaksi atau mewartakan.”
Menurut manuskrip Kodeks Peshitta Khabouris (165 M). Kata ἐκκλησία (Ekklesia) dari Septuaginta XX adalah ekuivalen dalam bahasa Aramaik עֵדָה (edah) — ܥܕܬܝ.
Sehingga disebutkan dalam Mattai 16:18, Maran Yeshua berkata: “Aku juga berkata kepadamu bahwa engkau adalah Kefa, dan di atas batu karang ini, Aku membangun Tubuh Kesaksian-kesaksian-Ku …”
Sehingga kita menemukan bahwa yang dibangun atau yang didirikan Yeshua itu sebagai “Edah” atau “adta” atau “Idtha” adalah Tubuh Kesaksian-kesaksian, yaitu Orang-orang Percaya sebagai Saksi-saksi Mshikha:
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” – Sefer Maasei ha’Shlikhim 1:8.
Catatan: Kita tidak diperintahkan menjadi “Saksi-saksi YHWH” sebab istilah ini merujuk kepada Bangsa Israel (Yesaya 43:10), kita umat Perjanjian Baru (Yahudi dan Goyim) diperintahkan menjadi “Saksi-saksi Mshikha”, meskipun Yeshua Mshikha itu sendiri adalah YHWH.
Jadi Terang-Nya harus disampaikan ke seluruh dunia, itulah tujuan mereka dipanggil keluar. Orang-orang Yahudi dipanggil keluar dari kegelapan bangsa Israel yang masa Dispensasi sudah berakhir pada zaman Yokhanan (Lukas 16:16), sebab semua cabang-cabang Yudaisme telah dipotong habis (Roma 10:17,21), masa Keimamatan Aaron-Lewi sudah berakhir digantikan dengan keimamatan Melkisedek, dan Torah Perjanjian Sinai dalam keimamatan telah digantikan dengan Torah Mshikha (Galatia 6:2), maka mereka Semua orang Yahudi dipanggil keluar dari kegelapan pengajaran Rabbi-rabbi Farisi dan Keimamatan A’aron-Lewi yang sudah korup karena dipimpin oleh Kohen haRasha (כהן הרשע “Imam Jahat”), maka mereka harus dientenkan atau dicangkokkan kembali kepada Satu Tunas (Netser) dari keturunan Daud Suku Yehuda yang tumbuh dari tunggul Isai yang dipotong itu (Yesaya 11:1). Kita semua dipimpin oleh “Guru Kebenaran“(Ha-Tzadik, מורה הצדק), yaitu Maran Yeshua Ha-Tzadik.
Semua mereka kaum orang Israel harus dicangkokkan kembali agar menjadi bangsa Pilihan Imamat Rajani yang digabungkan dengan domba-domba non-Israel menjadi satu kandang (Yokhanan 10: 14:16,26-27; 15:6; 1) sehingga Yehudim dan Goyim menjadi SATU TUBUH MSHIKHA (Roma 10:12).
Umat Alaha Perjanjian Baru tidak lagi berkarakter Tribalisme, di mana Bangsa-bangsa harus dicangkokkan kepada Umat Israel sebagai Goyim ha-Berith (proselit bangsa-bangsa), tetapi umat Israel juga harus dicangkkokkan kepada Maran Yeshua sebagai Pohon Anggur yang Benar (Yokhanan 15:6) sehingga mereka disebut Yehudim ha-Berith (proselit Yahudi), umat Perjanjian Baru adalah berkarakter “Semestawi” (Katolik). Catatan: kata “Katolik” tidak ada kaitannya dengan Gereja Roma yang berpusat di Vatikan, kata “Katolik” di sini adalah antonim dari kata “Tribalisme.” Gereja Roma Katolik adalah salah satu bagian dari Gereja Mshikha di bumi, dan bukan sebagai Bunda Gereja sebab yang dimaksud Bunda Gereja adalah Roh Kudus itu sendiri dan bukan pula Santa Maria, sebab ia sendiri adalah salah satu umat dari Gereja yang dilahirkan Ruakh ha-Kodesh.
Dengan demikian terdapat Tubuh Mshikha yang disebut “Kumpulan” orang percaya ini sebagai “Edah,” yaitu Komunitas Orang-orang Percaya, yaitu mereka yang memiliki kesatuan dalam Iman yang sama (Efesus 4:4-7).
Kemudian kata Edah ini disebut dalam bahasa Aramaik ‘adta’ (sinagoga) berdenotasi kepada kumpulan lokal dari orang-orang yang seiman dan berliturgi bersama. Dalam perkembangannya kata tersebut merujuk kepada kitab Tanakh disebut sebagai Qahal (berkumpul – dipanggil kedalam), yang dalam bahasa Aramaik sejajar dengan kata Knesiyah – Kenisah (Ibrani disebut “Knesseth” – kata untuk orang Israel berarti “Dewan” atau “Majelis” atau Konsili).
Kalau begitu kata yang mana paling tepat digunakan untuk kumpulan orang percaya? Ada beberapa alternatif:
-
- Kata “εκκλησία (ekklêsia) – Gereja, memiliki makna teologis; panggilan mereka yang dari kegelapan masuk kedalam terang-Nya yang berkarakter eskatologis sampai Maranatha.
- Kata “Edah” atau “Adta” merujuk kepada Orang-orang yang menjadi Saksi-saksi Mshikha (Tubuh Kesaksian Mshikha) yang berkarakter syiar – missi pewartaan, ibadah, dan liturgis.
- Kata “Qahal” atau “Kehilla” atau “Kehilat” atau “Knesiah-Kenisah” merujuk kepada kumpulan orang percaya yang berkumpul bersama membentuk dewan kelembagaan umat percaya (organisasi) sehingga disebut juga Knesset atau Sinagoga.
Ketiga kata Ekklêsia – Edah – Qahal saling melengkapi satu sama lain. Menyebutkan satu kata terkait kepada fungsi-fungsi lainnya yang saling berkaitan. Sehingga sulit bagi Umat Perjanjian Baru memakai satu kata dari yang tiga di atas, sehingga tidak heran sepanjang sejarah Kekristenan kesulitan memilih mana yang paling tepat.
Mengapa Yeshua menyebutkan kata “Edah” dalam Mattai 16:18 dan mengapa tidak kata “Qahal”? Alasan utama, Maran Yeshua tidak menghendaki membangun Agama Baru sebab kata Qahal merupakan suatu Lembaga Keagamaan yang sudah berdiri sejak di Sinai dan Lembaga ini tetap eksis meskipun sudah dipotong semua Cabang-cabang Israel, tetapi dari TUNGGUL Isai (Yesaya 11:1) salah satu cabang terpotong itu muncul TUNAS (Netsr), yaitu diri-Nya sendiri sehingga Ia disebut Yeshua ha-Nasrani (Mattai 2:23; Kisah 22:8). Dia tidak membentuk Umat (Qahal) Baru tetapi memperluas cakupannya bersifat Universal melalui satu cabang komunitas yang disebut “Edah” yaitu kumpulan orang percaya lokal atau “Cabang” (Arab, “Mazhab”) yang disebut “Nasrani” yang terdiri dari Orang-orang Yahudi dan Goyim Percaya dalam Diri-Nya. Sehingga bisa dikatakan sebagai Komunitas-Nya Yeshua atau Para pengikut Mshikha (Mshikhanim – Msheekhayeem) dalam bahasa Yunani disebut “Khristianos” atau “Kristen.” Jadi kata Nasrani sejajar dengan Kristen.
Jadi Cabang Nasrani itu adalah Cabang Pohon Yudaisme – Israel, atau Kristen itu juga disebut Cabang Pohon Yudaisme sehingga sering disebut Judeo-Christianity (Kristen –Yahudi).
Oleh karena itu, Yeshua lebih memilih kata “Edah” yang bertujuan syiar penjangkauan jiwa-jiwa dengan demikian para penterjemah berbahasa Yunani dengan tepat menterjemahkan kata “Edah” ܥܕܬܝ itu adalah ἐκκλησία (Ekklesia) – Gereja yang berorientasi “dakwah” sehingga Yeshua memberi mandat kepada Para Rasul: …PERGILAH, JADIKANLAH SEMUA BANGSA MURID-KU, MIKVEHKANLAH…, AJARLAH …(Mattai 28:19).
Dengan demikian misi orientasi Yeshua ke bumi bukan mau melembagakan suatu organisasi keagamaan, tetapi dalam rangka penyelamatan Jiwa-jiwa berdosa…
Maka kesimpulannya kita sebut yuridiksi lembaga gerejawi kita GEREJA NASRANI INDONESIA (Kehilla Nasrani Katolik Ortodoks Indonesia).
- Tulisan “NASRANI” artinya Sang Tunas (Netzr), yaitu Maran Yeshua sendiri. Dalam hal ini Nasrani disebut pengikut Yeshua. Nasrani adalah salah satu cabang Yudaism dari tunggul pohon yang dipotong Alaha, tumbuh tunas baru yang merupakan Yudaisme Sejati di dalam Yeshua. Nasrani ini kontradiktif dengan Rabbinik Yudaisme sehingga berkarakter Ibrani-Aramaik (Semitisme), namun demikian tidak etnis. Jadi bisa berbudaya heterogen.
- Tulisan kata “KATOLIK” berasal dari kata Yunani dalam bentuk kata sifat καθολικός (katholikos), artinya “universal” yang bersumber dari frasa kata καθόλου (katholou), artinya “pada keseluruhan”, “amenurut seutuhnya ” atau “semestawi”, dan dikombinasikan dari kata Yunani κατά artinya “tentang” dan ὅλος artinya “keseluruhan”. Kata ini melekat pada sifat Gereja yang berarti bagi seluruh bangsa-bangsa (Yahudi dan Goyim), kata ini sama sekali tidak terkait kepada Gereja Roma Katolik dengan menafsirkannya karena terdapat di umatnya di seluruh dunia. Kata Katolik merujuk kepada “pengajaran gereja”, yaitu setia kepada ajaran utuh. Contoh jika Alaha memberikan 10 perintah (10 perintah Musa) maka sepenuhnya dijalankan; jika 1 perintah diabaikan maka tidak katolik lagi.
- Tulisan “ORTODOKS” berasal dari kata Yunani ὀρθός, orthos (“tepat”, “benar”, “lurus”) dan δόξα, doxa (“pendapat” atau “keyakinan”, terkait kepada dokein, “berpikir”), berarti “ajaran benar” atau “keyakinan benar” dan lawan kata ini adalah “heterodox” (ajaran campuran benar dan salah) atau yang disebut ajaran bias (bida’a). Iman yang lebih dekat akan tetap bertahan tinggal mengikuti ajaran murni iman itu, lebih besar kesempatan agama itu akan tetap setia tinggal kepada sumber aslinya. Inilah yang dimaksud arti “ortodoksi” paling tepat dan benar. “Prioritas kami umat Nasrani yang katolik ortodoks adalah pada “Ortodoksi”, bukan pada argumentasi bentuk luar.” Dalam pengertian analisis murni, saya tak berpikir ada banyak orang beriman akan berani berdebat menentang Ortodoksi. Karena hal itu sudah jelas dari segi kata itu sendiri, saat suatu kelompok atau sekte mengajarkan berlawanan dengan pengajaran-pengajaran murni iman itu, mereka ini disebut kelompok-kelompok baru, doktrin atau pengajaran yang direkayasa sesuai dengan pemahaman menyimpang kelompok atau sekte. Bagi kelompok baru ini Ortodoksi tidak dihiraukan mereka lagi. Pengajaran-pengajaran “baru” ini bisa berbeda drastis dari sumbernya.
Ada banyak orang yang sudah tak perduli lagi dengan ide Ortodoksi; praktek Ortodoksi bisa saja menyebabkan banyak masalah timbul dalam kehidupan mereka. Itulah sebabnya mereka berusaha menjauhi pemahaman yang seperti ini karena dianggap sudah usang dan bagian masa lalu, yang penting sekarang apa yang ada di depan mata. Sumber ortodoksi murni patuh dan didasarkan pada Perintah-perintah Alaha. Semua Liturgi, Sakramen, adat Istiadat dan ibadah adalah sarana untuk menjaga kita agar tetap berada pada jalan yang telah ditentukan, karena berlawanan dengan hal itu bisa dipastikan merupakan “tafsir ulang” terhadap Perintah-perintah Alaha yang dicocokkan sesuai kebutuhan kita dari waktu ke waktu, disesuaikan dengan konteks budaya lokalnya masing-masing. Kebenaran akhirnya menjadi semacam alat papan luncur bermain, dan tidak lagi sesuai dengan perintah-perintah Alaha sama sekali.
Tidak semua yang mengklaim dirinya “Ortodoks” di dunia ini tepat melaksanakan atau beriman ortodoksi sesuai akar kata itu sendiri. Ada banyak denominasi Gereja yang menyebut dirinya “Ortodoksi.” Seperti Gereja-gereja Ortodoks Timur, dan meskipun banyak ritus dan prakteknya adalah setia terhadap sumber kunonya, namun seperti pepatah katakan “tidak semua orang yang menghadiri ibadah di gereja itu jujur, setia, dan mengikuti pengajaran Alaha dengan benar.” Salah satu contoh saja; perihal Hari Sabat yang dilaksanakan Jumat Petang dan berakhir sabtu Petang yang dimandatkan kepada nabi Musa tidak dipatuhi lagi dengan utuh sementara yang Sembilan perintah lainnya diikuti. Ini adalah salah satu sikap tidak katolik 9tidak utuh) dan tidak ortodoksi (tidak benar).
Kita melihat Gereja – gereja Ortodoks Timur dan Oriental dimana banyak dari umatnya hanyalah pengikut “aekspresi buday” saja; sebagai contoh, orang-orang Kristen Ortodoks Yunani jika ada petobat masuk kedalam lembaga gerejawi ini, sesungguhnya lebih menjadi “Orang Yunani” dari pada “Ortodoks”! Ini merupakan suatu situasi dimana “semua ritus dan ibadah adalah tujuan akhir dari kisah”, karena bertentangan terhadap awal cerita. Ini juga terjadi bukan hanya Orang Yunani, tetapi Latin Roma, Koptik, Syria, Armenia, Russia, Anglikan, Katolik Lama, seluruh dunia Reformasi Protestantisme apapun nama sektenya. Sikap dan wajah mereka sama! Mereka tak menjalankan “Ortodoksi”, melainkan “adat istiadat teologis tafsir ulang Iman Yahudi Mesianik menurut konteks pemahaman lokal masing-masing sehingga lahir yang kita sebut “Teologi Pengganti”, dengan demikian mereka semua masuk kategori “heterodoks.”
Kami mau katakan realitas kenyataan, bahwa ada 2 jenis Ortodoksi: “Ortodoksi Benar” dan “Ortodoksi Palsu.” Orang yang memasrahkan hidup mereka kepada Mar-YAH melalui Mshikha dan menggunakan ritus, kebiasaan dan praktek yang menunjukkan kepatuhan dan kasih kepada Yeshua adalah seorang “ortodoks benar.” Seorang yang percaya bahwa jika mereka hanya menjalankan ritus dan sakramen, tetapi tak perduli pada hati dan roh Injil adalah seorang “Ortodoks Palsu.” Sebagai kaum Nasrani Katolik Ortodoks, kita harus menjalankan semangat “Ortodoksi Benar”, tidak meremehkan terhadap semua pengajaran Iman murni, ritus, sakramen dan adat – istiadat tetapi sebaliknya kita jangan mencari ritus dan adat istiadat Jemaat sebagai tiket masuk sorga, dalam diri ritus itu sendiri; sehingga melupakan Mshikha yang meminta kita mencari kesempurnaan, dibagian dalam (isoteris) dan luar (eksoteris) juga. Ortodoks yang benar tak akan pernah mengorbankan yang satu dan menekankan yang lain. Jika kita pernah menemukan diri kita sendiri betapa inginnya Yeshua menghendaki kita menjadi Ortodoks atau tidak, kita hanya memeriksa pada kitab Injil untuk mengetahui bahwa ternyata Yeshua adalah seorang Yahudi Ortodoks. Mshikha menjalankan pengajaran-pengajaran Mar-YAH yang benar, Dia melembagakan pengajaran-Nya sendiri! Bagaimana bisa Yeshua Mshikha bisa menjadi yang lain kecuali seorang “Ortodoks Benar”? Sebagai kaum Nasrani Katolik Ortodoks, marilah kita mengikuti jalan yang benar mengikuti pengajaran murni Mshikha, dan dari Para Rasul Kudus-Nya. Sementara itu, hasil formulasi Konsili-konsili Ekumenis gerejawi hanyalah sebagai pembanding rasional dalam pembelajaran pengetahuan untuk pengayaan pengetahuan saja, bukan sebagai filter dan kaca mata tafsir melihat Kitab Suci, dan lainnya.
20. Tulisan: “INDONESIA” berarti wilayah pewartaan.