Skip to content
Gereja Nasrani Catholic Ortdox
logohead
Menu
logohead
Menu
subhead
Visi & Misi
www.gnicatholicortodox.com
VISI GNI
VISI GNI

Mandat pemuridan gagal dilakukan oleh bangsa Israel melalui keimamatan A’aron-Lewi menjadikan semua bangsa-bangsa satu dalam Torah yang ditetapkan di Sinai (Bilangan 15:15-16), dan akhirnya Dispensasi umat Israel berakhir pada zaman Yokhanan ha-Mikveh (Lukas 16:16).

Sejak Konsili Sanhedrin Yahudi di Yamnia pada tahun 100 M, dibawah kepemimpinan Av-Nasi Gamalilel II resminya menghapuskan aspek-aspek upacara korban dari Torah Musa dan keimamatan A’aron-Lewi. Sejak saat itu tidak ada lagi praktek keimamatan Aaron-Lewi dalam Yudaisme hingga zaman modern ini, sekarang mereka hanya berbasiskan ajaran-ajaran tafsir “Rabbinik” saja identik dengan keagamaan Kristen Protestantisme; bahkan korban Pesakh bukan lagi suatu pengorbanan anak domba. Dibalik ini sebagian besar keputusan dipengaruhi oleh motif politis yang rumit.

Dari sudut pandang rohaniah, yakni Shliakh rabbi Mar Saul menubuatkan dalam Ibrani 7: 11 – 13, “Keimamatan berubah dengan kedatangan Mshikha; Dia dengan implikasi terhadap mereka yang mendapatkan otoritas dari Dia adalah Kohanim (Imam-imam) “menurut ketetapan Melkisedek” yang berkarakter Universal dan mereka sekarang menggantikan keimamatan A’aron-Lewi yang berkarakter Tribalisme. Inilah sebabnya orang-orang pengikut Mshikha (Mshikhanim ataupun Kristen) tidak menjalankan Perayaan-perayaan Moedim Yahudi sebab sudah digenapi dalam diri Maran Yeshua Mshikha 2000 tahun lalu, sebaliknya para pengikut ha–Mashiakh (d’Mshikha) merayakan yang dimandatkan Yeshua, yakni Pesakh dalam konteks Perjanjian Baru (Lukas 22:19-20) dan Seder sebagai Perjamuan Kasih atau Perjamuan Pesta Kawin Anak Domba (Wahyu 19:9; Mattai 25:1-13) yang merujuk kepada masa depan bukan lagi mundur ke belakang!

Sementara Perayaan-perayaan Yahudi lainnya masih ada dirayakan dalam konteks Perjanjian Baru juga seperti Hanukkah 25 Kislev adalah pentahbisan ulang Bait Suci dalam diri Yeshua Mshikha sebagai Bait Suci ke-3 yang secara spiritual dan tak bisa dicemari oleh ambisi-ambisi manusia lagi dalam Bait Suci (Yokhanan 2:16, 21-23, dan Wahyu 21:22) dan kita orang percaya adalah bagian dari Bait Suci sebagai Tubuh Yeshua yang memiliki Ruang Maha Kudus dalam hati nurani kita sendiri sebagai “Maqom” Ilahi (1 Korintus 6:19), Savu’ot dengan turunnya Ruakh ha-Kodesh di mana “Lidah-lidah Api” turun kepada Para Rasul (Kisah 2) yang ditransmisikan kepada Para Pengganti Rasul (Para Uskup) sampai hari ini, Hari Tuhan (Hari Kebangkitan, pada hari pertama) merupakan Perayaan Tradisi Rasuli untuk berkumpul belajar akan Sabda-sabda Ilahi dan Perjamuan Tuhan, Perayaan Sabat dimana Hari Ketujuh adalah Mandat yang tak bisa digantikan oleh hari lainnya, Sukkot pada bulan akhir September dan awal Oktober dengan konteks berbeda dengan Yudaisme Rabbinik Yahudi. Pemahaman ini dalam dunia Kekristenan gemanya sudah redup dan perlu dihidupkan kembali agar menjadi jelas. Kami sangat berseberangan dengan Gerakan Mesianik Yahudi modern abad ke-21 yang pada hakikatnya adalah kelompok-kelompok Kristen yang merasa kehilangan “Akar Ibrani-Aramaik” karena pada umumnya mereka berasal dari denominasi-denominasi Kristen Protestantisme budaya Barat (Western), sementara kami berasal dari Timur yang tetap mempertahankan akar Semitismenya dalam teologi, tradisi dan ritual peribadatannya.

Sehubungan dengan Reformasi Protestantisme di Barat (Abad ke-16) sebagian besar Kekeristenan dengan banyak denominasinya menolak “Suksesi Rasuliah” (Semikha) yang merupakan Keimamatan Melkisedek yang diterus sampaikan dari Yeshua kepada Para Rasul dan seterusnya Para Rasul kepada Para Uskup sebagai Pengganti Rasul-rasul. Suksesi Keimamatan adalah fakta, bukti sejarah yang tak putus dan ada kewajiban mutlak bagi pelayan-pelayan Mshikha ditahbiskan dalam mata rantai rasuliah ini sehingga memiliki otoritas pewartaan sebagai yang diutus (Mattai 28:19-20) dan melayankan Sakramen (qadishothim) dengan hak keimamatan MELEPAS dan MENGIKAT … (Mattai 16:18-19; Yokhanan 20:21-23; Markus 4:11; Lukas 22:19-20). Sekaligus ini mengingatkan kepada kaum Yahudi bahwa keimamatan A’aron-Lewi menurut Torah Musa sudah berakhir dan usang (Ibrani 8:13), tidak ada lagi keimamatan A’aron-Lewi dengan dibuktikan dalam sejarah bahwa Bait Suci Kedua sudah dihancurkan selama-lamanya, dan orang tidak perlu lagi datang ke Yerusalem untuk menunaikan pilar Imannya (Yokhanan 4:21) dan nubuatan Zakaria 14: 16 sudah tergenapi 2000 tahun yang lalu.

Dengan demikian Gereja Nasrani Ortodoks Katolik Indonesia merasa perlu untuk menyuarakan mutiara yang hilang dalam Yudaisme Rabbinik dan juga lembaga-lembaga Kekristenan Protestantisme yang tadinya selama 1600 tahun bersama-sama memiliki Iman yang sama yang rasuliah.

MISI GNI
MISI GNI

Sejarah mencatat adanya pertikaian teologis, administratif, arogansi budaya, politik, dan tafsir dan berbagai intrik lainnya sepanjang 2000 tahun Kekristenan berkembang dan tumbuh menjadi salah satu agama terbesar dunia. Apa wajah Kekristenan masa kini ADALAH hasil sejarah masa lalu yang seharusnya kita koreksi bersama menuju kepada satu Gereja yang kudus, rasuli, katolik dan ortodoks. Kita tidak membiarkan terus Tubuh Mshikha terpecah-pecah satu sama lain dengan tidak adanya komunikasi ke arah pemulihan global.

Sementara itu, kita hampir semuanya menyuarakan dan mengharap Kedatangan Mshikha Kedua Kali ke bumi dipercepat. Yeshua berkata”…masih adakah Iman di bumi”? (Lukas 18:8) Bagaimana Yeshua akan datang kembali sementara kita tak memiliki kesatuan dan persatuan seperti yang disebutkan Shliakh Mar Saul: kesatuan Roh, satu Tubuh, satu Pengharapan, satu Maran, satu Iman,satu Baptisan/Mikveh, dan satu Alaha dan Bapa… (Efesus 4:4-7). Ini tidak akan tercapai jika dalam diri kita tidak ada Energi Ilahi Ruakh ha-Kodesh yang sejak zaman Pentakosta/Savu’ot di Yerusalem dalam bentuk Lidah-lidah Api tidak mengalir dalam diri kita. Ruakh ha-Kodesh itu telah bersemayam dalam diri Para Rasul yang diterus sampaikan kepada Para Pengganti mereka lewat tahbisan Suksesi Rasuli. Jika semua denominasi gereja memiliki tahbisan suksesi rasuliah maka akan lebih mudah kita semua bersatu kembali sebab sang Roh itu satu adanya dalam diri kita. Jika kita terus mempertahankan berdasarkan Tafsir-tafsir Alkitab maka kesatuan dan persatuan satu Tubuh Mshikha hanya mimpi saja.

Sehubungan dengan itu, Gereja Nasrani Ortodoks Katolik Indonesia bersedia dan menerima setiap denominasi Gereja-gereja Protestantisme yang tak memiliki tahbisan Suksesi Rasuli  untuk menyambung mata rantai yang hilang, tanpa harus tunduk dibawah kepemimpinan satu lembaga administrative seperti yang dilakukan Gereja Roma Katolik dan Gereja-gereja Ortodoks Timur lainnya, semua denominasi tetap bersifat “Independen” tetapi berhutang KEHORMATAN kepada pentahbisnya. Prinsip inilah yang diwariskan sejak zaman Para Rasul yang disuarakan kembali sejak tahun 1870 oleh Gereja Katolik Lama Utrecht – Belanda (Old Catholics) dan semua turunan-turunannya yang menyebut diri Gereja-gereja Katolik Ortodoks yang memiliki suksesi rasuliah dari Kepatriakan Gereja-gereja Ortodoks Kuno Timur dan Katolik Barat. 

Mandat pewartaan sebagaimana kita tahu dalam Tradisi Suci Lisan dan Tertulis bahwa Maran Yeshua hanya memberikan Mandat Agung kepada Para Rasul saja. (Mattai 28:16; Markus 16:14; Yokhanan 20:19-23; Kisah 1:2,8). Amanat Agung Yeshua tidak diberikan kepada siapa saja yang mendengar ataupun setelaha membaca Kitab Suci, melainkan mereka yang terpilih. Perihal yang sama dilakukan Rasul-rasul mentahbiskan orang-orang yang terpilih sebagai pengganti mereka dan memimpin jemaat-jemaat (Kisah 14:23).

Misi Gereja Nasrani Ortodoks Katolik Indonesia: Syiar Internal kepada kelompok-kelompok Kekristenan yang tak punya Suksesi Rasuli tanpa mencabut mereka keluar dari lembaga gerejawi mereka. Syiar Eksternal membangun jembatan komunikasi dan persaudaraan kemanusiaan antara mahluk ciptaan TUHAN yang berbeda keyakinan dan agama untuk lebih meningkatkan moralitas umatnya masing-masing, saling bertoleransi sesama umat beragama dan keyakinan berbeda, membangun kerjasama sosial gotong royong dalam pembangunan mental spiritual Warga Negara NKRI yang kokoh dan taqwa kepada sang Pencipta Maha Kuasa dengan Nama Keilahian yang mereka panggil masing-masing.