Pola kehidupan Jemaat Gereja Nasrani Indonesia (GNKOI) mengacu kepada nilai moralitas yang terkandung dalam Tiga Pilar Iman; salah satunya untuk Goyim adalah pada Kitab Sefer Limudah (Didakhe atau Pengajaran 12 Rasul) hasil Keputusan Ruakh ha-Kodesh dan Para Rasul dalam konsili Yerusalem tahun 50 M. (Kisah Rasul, pasal 15)
Secara global Nilai- nilai moralitas dan Keimamatan Melkisedek disebut “Torah Mshikha” (Galatia 6:2) yang merupakan KUK RINGAN (Mattai 11:29-30). Torah Perjanjian Lama tidaklah dihapuskan (Mattai 7:15-20), khususnya Aturan-aturan Torah Musa mengenai Keimamatan Harun-Lewi dalam hal peribadatan, hari raya, persembahan korban, puasa, pentahiran, berkat, Imam-imam, pola peribadatan, ritus, simbolisme Bait Suci, dan semua terkait pada keimamatan hanya mengalami MODIFIKASI dalam diri Maran Yeshua dengan digantikan dalam sistem Aturan Imamat Melkisedek yang berkarakter UNIVERSAL berlaku bagi semua Suku-suku Israel dan Bangsa-bangsa sebagaimana halnya sebelum masa Perjanjian Sinai. Ketetapan keimamatan Harun-Lewi merupakan PRA-BAYANG dalam Keimamatan Melkisedek (Ibrani 8:5).
Pusat ibadah Perjanjian Baru tidak lagi dipusatkan pada lokasi, bangunan, dan bangsa yang sangat bertendensi TRIBALISME, melainkan ditekankan di seluruh dunia dan tidak lagi di Yerusalem (Maleakhi 1:11; Yokhanan 4:21) dan tidak ada kewajiban umat percaya Perjanjian Baru untuk melakukan ziarah Iman ke Tanah Suci Israel (aliyah hagg) seperti yang disebutkan dalam Mazmur 84:6 Keluaran 23:14. Ini disebabkan DISPENSASI umat Israel sudah berakhir (Lukas 16:16) digantikan dengan Dispensasi Perjanjian Baru yang cakupannya lebih luas dan sejagat raya bagi semua bangsa.
Bait Suci itu sendiri tidak lagi ditekankan secara fisik bangunan yang terbuat dari logam, batu, kayu, pasir dan semua material di bumi melainkan Bait Suci itu sendiri adalah TUBUH Yeshua Mshikha yang terbuat dari daging Kemanusiaan yang diambil dari Miriam Terberkati yang mewakili semua daging seluruh umat manusia tercipta (Yokhanan 2:21-23). Tubuh Mshikha ini disebut juga sebagai “Edah” ataupun “Qahal” (Gereja) dan “Kepala Gereja” ini adalah Yeshua sendiri (Efesus 1:22-23). Bait Suci ini tidak bisa lagi dicemari oleh ambisi dan motif politik duniawi seperti yang dilakukan Imam Jahat (Ibrani; Ha-kōhēn hā-rāš’ā – הכהן הרשע) yang menyalahgunakan Bait suci untuk kepentingan duniawi sebagaimana disebutkan Maran Yeshua: “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” (Lukas 19:45-48; Yokhanan 2:17), dan TANDA tidak berlaku lagi Bait Suci Yerusalem dengan ditandai Kematian Yeshua di Golgota sebagai Mezbah Ilahi Universal di mana sang Anak Domba dipersembahkan bagi korban pendamaian semua dosa-dosa umat manusia (Yokhanan 1:29) dan pada Hari Ketiga Ia bangkit dari antara orang mati.
Kini Bait Suci itu telah dibangun Yeshua dalam tempo tiga hari tiga malam. (Yokhanan 2:21; Wahyu 21:22) Umat Percaya yang dimikveh/baptis dengan Air dan Roh dalam Yeshua (Yokhanan 3:5-7; Mattai 3:11) dan dimeteraikan (Efesus 1:13-14) dalam Ruakh ha-Kodesh telah mengenakan Mshikha sehingga layak disebut “Mshikhani” (Yunani, disebut “Kristen”) sebab telah dijubahi dengan Mshikha (Galatia 4:27) sehingga menjadi Anak-anak Alaha (Galatia 4:26; Yokhanan 1:12) yang adalah Anak-anak Terang (Yokhanan 12:36).
Untuk menjadi Mshikhani harus melalui Iman dan pertobatan dalam Yeshua yang kemudian proses selanjutnya menjalani inisiasi pencangkokan/enten kedalam cabang Pohon Anggur yang benar (Yokhanan 15:6) baik orang Yahudi – Israel dan semua Bangsa-bangsa. Semua ini harus dilaksanakan dalam konteks Keimamatan Melkisedek yang dimandatkan dan didelegasikan kepada Para Rasul saja yang melakukannya (Mattai 28:20; Yokhanan 20:21-23) dan kemudian Para Rasul mentransmisikan mandat, otoritas, dan hak keimamatan kepada Para Pengganti mereka (Kisah 14:23) melalui proses tahbisan suksesi rasuliah yang tidak putus. Sebagaimana sistem keimamatan Harun-Lewi berdasarkan SILSILAH.
Demikian juga dalam keimamatan Melkisedek berdasarkan SILSILAH SUKSESI RASULI yang dimiliki Para Uskup dalam Gereja Mshikha. Sehingga tidak ada hak dan juga tidak sah bila ada orang yang melakukan proses pencangkokkan / enten ini dilakukan oleh orang-orang yang mengaku Pelayan Tuhan tetapi tidak memiliki Tahbisan Suksesi Rasuli. Shliakh Mar Saul mengatakan “orang-orang yang melakukan tanpa Suksesi Rasuli adalah pekerja-pekerja jahat, rasul palsu, dan menyamar (2 Korintus 11:12-15; Galatia 1:8-9). Umat Percaya Mshikha tidak dicangkokkan kepada Suku-suku Israel lagi (Yahudi), tetapi kepada dan didalam Yeshua sendiri melalui Pelayan-pelayan-nya yang sah.
Demikianlah Yeshua dan Alaha adalah Bait Suci itu sendiri serta kita juga adalah bagian dari bangunan Bait Suci (Efesus 2:21-22) di mana Roh Alaha tinggal dalam diri kita (1 Korintus 6:19-20). Sehingga “Maqom” Ilahi atau Kehadiran Shekinah YHWH itu ada tinggal dalam diri kita, dalam kalbu hati nurani kita yang terdalam. Itulah sebabnya kita tidak membutuhkan Bait Suci Fisik lagi dan dibangun di Yerusalem – Israel. Inilah modifikasi Pola Bait Suci antara Perjanjian Lama dan Baru yang pada hakikatnya tidak ada penghapusan tetapi lebih disempurnakan dalam tataran Spiritualitas yang lebih tinggi dan mulia. Jika kita masih punya Bait Suci, maka tentu ada persembahan KORBAN? Tentu saja, Korban-korban tetapi dipersembahkan dalam Perjanjian Baru dalam bentuk modifikasi persembahan Roti dan Anggur (Lukas 22:19-20) sebagai TUBUH dan DARAH Yeshua sendiri. Ini menjadi sarana pendamaian dalam Dispensasi Perjanjian Baru (Yokhanan 6:48-56). Dan jika kita jatuh dalam dosa, maka ada sarana Sakramen Pengakuan Dosa dan Pengampunan yang dilakukan oleh Imam – imam Melkisedek Suksesi Rasuli untuk menghadirkan otoritas Ilahi MELEPAS dan MENGIKAT …. (1 Yokhanan 2:1-2; Mattai 16:19). Dalam peribadatan Perjanjian Baru, juga masih dipersembahkan “korban bakaran – wangi-wangian.” (Wahyu 5:8-9). Jadi Torah tidaklah dihapuskan melainkan dimodifikasi, sementara itu, rasul Mar Saul katakan:
Dan Dia telah MENGHAPUSKAN melalui Tubuh Mulia-Nya, permusuhan antara mereka, dan Dia MENGHAPUSKAN melalui perintah-perintah-Nya, aturan-aturan TORAH, sehingga Ia bisa menciptakan, dalam pribadi-Nya, dari kedua belah pihak, manusia baru, dengan demikian menjadikan perdamaian; 16 Dan Ia memperdamaikan kedua pihak dalam satu Tubuh dengan Alaha, dan dengan SALIB-Nya Ia membinasakan permusuhan:” – Efesus 2:15-16 Peshitta Lamsa.
Inti ayat di atas menjelaskan bahwa Sistem Persembahan Qurban dalam Keimamatan Harun-Lewi telah dihapuskan dengan segala aturan-aturannya digantikan dengan Persembahan Qurban Yeshua di mezbah Golgota dalam konteks Peraturan Keimamatan Melkisedek sehingga SEMUA manusia bisa diperdamaikan dan tidak lagi hanya diperuntukkan bagi Umat Israel saja (Roma 10:12-13). SALIB selalu merujuk kepada “Mezbah Qurban” dan “Keimamatan.” Aturan-aturan Torah Perjanjian Sinai digantikan dengan Aturan-aturan Torah Mshikha (Yokhanan 14:15; Galatia 6:2).
Dengan demikian konsep Keselamatan orang percaya dalam Yeshua harus berlandaskan EMUNAH dan TORAH. Emunah adalah Iman kepada Yeshua yang diekspresikan melalui ketaatan menjalankan Perintah-perintah Yeshua yang disingkat sebagai PERBUATAN. Jadi Iman dan Perbuatan adalah satu paket Keselamatan (Yakobus 2:26). Iman tanpa Perbuatan pada hakikatnya mati; Yeshua tanpa Torah adalah Orang-orang Kristen yang anti-Torah, dan Torah tanpa Yeshua adalah orang-orang Yahudi Rabbinik Farisi. Yeshua dan Torah adalah Keselamatan. Dengan pemahaman inilah sehingga Orang-orang Nasrani Yehudim Awal bersemangat menjalankan Perintah-perintah Torah (Kisah 21:20) karena Perintah-perintah Torah Yeshua adalah KUK RINGAN (Mattai 11:28-30) tidak seperti KUK RABBINIK FARISI YANG BERAT. (Mattai 23:4) Semua Perintah-perintah ini kita bisa baca dalam kitab Tanakh dan Kitab Brith Khadasha.
Torah yang manakah yang tak dihapuskan atau dimodifikasi sama sekali?
Jawab: Torah Moral. Ada Dua Belas Perintah Inti Torah Mshikha; yaitu Aseret ha-Dibroth – SEPULUH Perintah Mar-YAH Alaha yang diberikan melalui nabi Musa di Sinai (Keluaran 20:1-17) dan Dua Perintah Kesimpulan dari Sepuluh Perintah:
“Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Mar-YAH Alaha kita, Mar-YAH itu ehad. Kasihilah Mar-YAH, Alahamu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama dari pada kedua perintah ini.” – Markus 12:29-31.
Dari Dua Belas Perintah ini diringkas lagi oleh Maran Yeshua dengan mengatakan:
“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh perintah Torah dan kitab para nabi.” – Mattai 7:12
Lebih ringkas lagi disimpulkan adalah DUA GARIS BERSILANG adalah SALIB (Garis Vertikal dan Horizontal yang titik temunya adalah Qurban Yeshua) sebagai wujud KASIH Alaha (Yokhanan 3:16) karena Alaha itu adalah KASIH. (1 Yokhanan 4:16)
Jadi pada intinya umat Perjanjian Baru adalah pelaku Jalan Hidup Torah, tetapi dalam konteks pemahaman Dispensasi dalam diri Yeshua.
Kalau begitu masihkah berlaku Torah Musa dengan segala aturan-aturannya?
Jawab: Tidak berlaku lagi. Sebab mereka semua pelanggar-pelanggar Torah: “Sebab barangsiapa menuruti seluruh perintah itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” (Yakobus 2:10).
Lalu Torah apakah yang dilakukan kaum Yahudi sekarang?
Jawab: Torah Tafsir Rabbinik Yahudi, bukan Torah Yudaisme Alkitabiah.
Mengapa?
Jawab: Torah Perjanjian Sinai tidak bisa dipisahkan dengan Aturan-aturan Keimamatan dan Torah Moral. Sejak tahun 100 M., kaum Yahudi tidak bisa lagi menjalankan Torah seutuhnya karena tidak ada Kohanim (Imam-Imam Lewi/Harun yang terkait kepada Bait Suci).
Seperti apakah bentuk keagamaan Yahudi sekarang ini?
Jawab: Keagamaan mereka sama persis dengan sistem keagamaan Kristen Protestantisme dengan semua denominasi dan sektenya. Mereka hanya mengikuti tafsir ajaran-ajaran Rabbi individual sama halnya dengan Kekristenan Protestantisme yang mengikuti tafsir subyektif tokoh pendiri keagamaan atau sekte mereka.
Sungguhkah Torah Keimamatan Perjanjian Sinai sudah dihapuskan?
Jawab: Perintah Torah dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yokhanan; dan sejak waktu itu Kerajaan Alaha diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya. Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari perintah Torah batal. (Lukas 16:16-17)
Torah manakah yang dihapuskan?
Jawab: Torah keimamatan sistem Qurban yang digenapi dalam SALIB. Sementara Torah Moral berlaku KEKAL. Contoh, Sepuluh Perintah Mar-YAH Alaha melalui Musa. Jika ada yang berani menghilangkan atau memodifikasi satu perintah ini, maka orang tersebut terancam disebut kecil dalam Kerajaan Surga. (Mattai 5:19)
Contoh, tentang Hari Sabat yang telah dihapuskan Gereja-gereja Kristen dengan menggantinya dengan Hari Minggu (Hari Pertama). Kita tahu bahwa Sabat adalah Mandat, sementara, Hari Minggu adalah Tradisi Gereja sebagai perayaan yang bersifat pilihan yang tak mutlak dirayakan karena tidak ada perintah untuk itu, ini hanya sebagai PERAYAAN gerejawi Perjanjian Baru yang nilainya sama dengan Perayaan Tradisi Hanukkha Yudaisme yang tidak dimandatkan oleh Mar-YAH Alaha. Perihal Sabat ini sangat serius sebab Maran Yeshua berkata “… Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Markus 2:27), artinya Tuhan adalah yang Empunya Sabat. Jika Tuhan yang memiliki Sabat, mengapa kita berani merubahnya dan tak menghormatinya? Itulah sebabnya dalam Injil Thomas dikatakan: Kemudian Yeshua berkata kepada para murid-Nya: “….jika kamu tidak menjalankan Sabat sebagai Sabat, engkau tidak akan melihat sang Bapa.” (Injil Thomas 4:14)
Bagaimana nasihat Shliak Mar Saul yang mengatakan: “Karena itu janganlah kamu biarkan orang mengganggu diantaramu perihal makanan dan minuman, atau perihal perayaan-perayaan hari raya, bulan baru dan hari sabat.” (Kolose 2:16-17). Ini adalah nasihat Shliakh rabbi Mar Saul agar umat Kolose jangan mengijinkan orang-orang Yahudi pengikut ajaran mistik Gnostik/Kabbalisme mengganggu mereka dengan aturan-aturan khusus seperti pelaksanaan berbagai macam ritual makanan dan minuman, hari raya, kalender dan sabat yang sudah digenapi dalam diri Yeshua. Kaum Gnostik ini mencoba menyeret umat Kolose kembali mengikuti tata cara sebelum Yeshua datang. Kasus yang terjadi pada zaman modern ini persis sama dilakukan oleh kelompok-kelompok Mesianik modern atau Yahudi Mesianik modern yang menyeret kita kembali ke masa lalu SEBELUM Yeshua datang. Kita harus cegah dan tolak mereka, sebab kita sudah dimerdekakan dengan berbagai aturan-aturan tersebut sebagaimana dinasihatkan Saul dalam ayat 18 -23.
Tetapi waspada bahwa bukan berarti perihal makan dan minum, perayaan hari raya, bulan baru – perhitungan kalender, dan sabat kita tidak lakukan lagi, melainkan kita justru lebih giat melakukannya dalam konteks Perjanjian Baru dalam diri Maran Yeshua Mshikha. Kita ada aturan makan dan minum Anggur Perjamuan (Qurbana), kita merayakan perayaan Hari Raya yang memperingati semua Peristiwa-peristiwa Yeshua di bumi baik itu; kelahiran-Nya, baptisan-Nya, kematian-Nya, bangkit-Nya, Naik ke Sorga, turun-Nya Roh Kudus, perhitungan bulan baru – kalender, dan banyak lagi. Kita tidak melaksanakan Perayaan dari Sinai, tetapi titik berangkat kita pada Peristiwa Yeshua yang terjadi pada 2000 tahun lalu yang sekaligus menunjuk kepada Masa Depan Maranatha, yaitu kedatangan Yeshua Kedua Kali.
Demikian juga kita merayakan Sabat dan Hari Minggu sebagai Awal dan Akhir siklus ibadah kita. Pada Hari Pertama kita merayakan Penciptaan dan Hari ketujuh kita merayakan Hari Istirahat. Jadi sama sekali tidak ada tujuan Shliakh rabbi Mar Saul melarang makan-minum, hari raya, perhitungan kalender, dan sabat di sini sebagaimana banyak orang Kristen tafsirkan pada umumnya.